Membentuk Hidup Yang Berkualitas

Untuk membentuk hidup yang berkualitas yang pertama tanya pada diri kita “Apa yang mengontrol kualitas hidup kita” yang mengontrol kualitas hidup kita adalah arti yang kita berikan pada hal-hal yang terjadi dalam hidup, Dimana arti ini dibentuk dan dihasilkan oleh keyakinan kita,nilai-nilai kita,identitas diri kita,referensi masa lalu kita,dan pertanyaan-pertanyaan yang selalu kita tanyakan dalam hati kita.

Contoh : Misalnya ada 2 wanita yang diperkosa oleh 4 orang, yang 1 memberi arti bahwa ini adalah hukuman dari Tuhan dirinya dikotorin dirinya menjadi sampah,tidak ada lagi laki-laki yang mau sama dia, hancur sudah hidupnya dia, tapi yang 1 sama-sama diperkosa oleh 4 orang, dia memberi arti bahwa ini adalah panggilan Tuhan untuk membuat dia menjadi lebih baik, dan membuat dia harus belajar bela diri dan kemudian mengajarkannya kepada wanita-wanita lain,sehingga kemungkinan diperkosa sangat-sangat kecil kalau mereka mau belajar bela diri dengan dia.

Ketika wanita pertama memberi arti bahwa ini adalah hukuman dari Tuhan, dan dia menjadi sampah, dan tidak ada gunanya sama sekali, apa yang akan dia lakukan ? “Dia akan bunuh diri”.
Dan kemudian bagi wanita yang ketika diperkosa oleh 4 orang yang sama kemudian memberi arti bahwa itu adalah panggilan Tuhan, dan harus belajar bela diri dan mengajarkan ke orang lain, apa yang dia lakukan ? dia akhirnya belajar bela diri dan membangun 1 perguruan bela diri , akhirnya dia berhasil mendidik banyak wanita, membuat hidup nya jauh lebih berarti, bahkan sebelum dia diperkosa pun.

Arti yang berbeda ini bukan hanya memberi efek terhadap kualitas hidup nya, tetapi juga mengakibatkan perubahan terhadap apa yang dilakukan, sehingga apa yang dilakukan tadi memberi efek terhadap kualitas hidup selanjutnya, sekali arti dibentuk, masing-masing orang punya pola emosi yang mereka kaitkan terhadap pola tindakan tertentu berdasarkan referensi masa lalu ataupun tujuan di masa depan.

Contoh : Ada seorang yang dimaki-maki, dia memberi arti bahwa ini dia ditantang untuk menjadi yang lebih baik, untuk membuktikan dirinya bisa lebih baik di kemudian hari, Tapi ada juga orang yang dimaki-maki dia memberi arti bahwa dia dihina, diserang, dan diejekkan, tapi ada juga orang yang dimaki-maki dia memberi arti bahwa itu omongan orang gila , tidak perlu ditanggapin.
Variasi dari arti ini adalah Unlimited,

Terserah orang memberi arti apa terhadap situasi yang sama, dan ketika misalnya kita ambil sama-sama orang memberi arti bahwa dia dihina reaksinya bisa berbeda, pola tindakan tertentu yang dia kaitkan dengan emosi tadi bisa berbeda, Ketika 1 orang memilih arti dihina, dia bisa menimbulkan 1 perasaan negatif yang akan diasosiasikan atau dikaitkan dengan tindakan tertentu.

misalnya, 1 orang ketika dia dihina dia menjadi marah dan dia memukulin orang yang menghina itu, tapi bisa juga ada orang yang sama-sama dihina dia perasaan marah dan negatif, tapi dia pura-pura bahwa hinaan tersebut tidak ada dampaknya apapun, tapi ada juga ketika orang dihina, dia tidak memukulin, pura-pura bahwa hinaan tadi tidak ada efeknya tapi dia malah marah dan melaporkan kepada polisi.
Variasi dari tindakan ini adalah Unlimited dan semua tindakan ini dibentuk karena asosiasi mengarah kenikmatan atau menghindari kesengsaraan. Dan kenikmatan serta kesengsaraan ini adalah relatif dari 1 dengan yang lain.

Ada 3 jenis asosiasi yang harus kita kenal.
1. Asosiasi yang salah.
Yaitu mencari nikmat jangka pendek dan tidak peduli jangka panjangnya sengsara luar biasa, inilah orang-orang yang masuk penjara, orang-orang yang memperkosa, orang-orang yang ngerampok, dia tidak peduli, “Pokoknya saya nikmat jangka pendek, sengsara kemudian saya tidak perduli” ketika orang-orang seperti ini hidupnya menjadi berantakan dan hancur kualitas hidupnya.

2. Asosiasi yang benar.
Yaitu mereka mau melakukan sengsara jangka pendek demi kenikmatan jangka panjang, atau “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian”, hanya saja sering sekali asosiasi yang benar ini menyulitkan orang di dalam kehidupan sehari-hari, kenapa? , Karena Otak manusia di design hanya mencari nikmat dan menghindari sengsara, ketika dia sengsara dia tidak tahan, karena manusia Hanya mencari nikmat dan menghindari sengsara  ketika sengsara dia hindari, misalnya dia tau bahwa olahraga bagus tapi ketika dia olahraga sakit, ketika dia olahraga capek, ketika dia olahraga malah kena serangan jantung, dia malah jadi takut olahraga, jadi sering kali dikatakan “Berakit-rakit ke hulu, Mati kemudian” Akibatnya tidak berhasil.

3. Asosiasi yang sempurna.
Yaitu nikmat jangka pendek, nikmat sekali jangka panjangnya, Contohnya, Pada waktu Arnold Schwarzenegger juara dunia binaraga serta menjadi gubernur California, pernah ditanya pada salah satu majalah “Arnold kamu latihannya bagaimana? kok kamu bisa sampai besar?” “oh saya latihan sampai besar yaitu saya selalu latihan sampai sakit, bagi saya sakit itu adalah Nikmat” Mungkin kalau psycolog menganggap bahwa orang ini sakit jiwa, “sakit ya sakit, nikmat ya nikmat ini kok sakit jadi nikmat berarti ada somethink yang salah” , Tapi bagi para pakar neuro associative conditioning dia tau persis bahwa “Arnold Asosiasi nya sudah sempurna” tapi bagi orang lain mungkin pada waktu olahraga angkat berat , angkat beban “Sakit” dan mereka tidak mau lagi karena menyakitkan tapi bagi Arnold dia sudah mengkaitkan dengan sangat sempurna, dengan sakit bahwa badannya akan tambah besar,bahkan akhirnya dia menjadi kecanduan, kalau dia engga latihan badannya engga sakit badannya tidak menjadi besar, kalau tidak menjadi besar berarti dia tidak juara, kalau dia tidak juara dia akan sengsara yang luar biasa, dan dia sudah menikmatin sekali, ketika dia mengangkat beban dan dengan kenikmatan jangka pendek ini , di jangka panjangnya dia sukses menjadi juara dunia Binaraga.

Pertanyaannya “Bagaimana kita bisa mengkaitkan sesuatu hal yang sengsara bagi orang lain tapi kita bisa anggap nikmat ?”
Disini perlu dikasih pengertian bahwa yang namanya nikmat adalah relatif yang namanya sengsara adalah relatif.
Contoh :
Ketika ditanya “Siapa yang pernah makan cabai, kepedasan, sangking pedasnya tidak tahan , kapok, dan tidak mau makan cabai lagi?, tapi akhirnya sampai hari ini makan nya tidak pakai cabai rasanya tidak enak? siapa yang pernah ngalamin seperti itu?” banyak orang yang angkat tangan, kemudian ditanya lagi “siapa yang pernah ngalamin juga makan kepedasan, sangat-sangat pedas sekali karena cabainya banyak dan kemudian hari ini Anda tidak suka makan cabai?” ternyata banyak juga yang angkat tangan. kenapa? , karena adalah relatif bagi yang 1 kepedasan dia menghentikan, tapi yang 1 kenapa kok dia bisa lanjut ? , mungkin pada waktu itu Orang tuanya terbiasa makan cabai juga dan kemudian pada waktu makan cabai anaknya dikasih Empowerment atau penguatan “yeee, bagus, sekarang uda berani makan cabai, yeeee” jadi dia mendapatkan kenikmatan dalam sudut yang lain , ketika dia rasakan pedas “ahh ternyata saya dapat tepuk tangan dari orang tua saya mendadak saya mendapat kenikmatan” lama-lama dia pedas-pedas yang awalnya tidak nikmat pun akhirnya bisa menjadi nikmat.

Demikian juga dengan pembentukan asosiasi yang salah Totaly salah. misalnya seperti orang merokok, pada waktu awal merokok apakah enak? pasti, boleh dikatakan semua orang yang pertama kali merokok merasa kalau merokok itu tidak enak.
Tapi kenapa kok dia tetap merokok ? kalau ditakdirkan hanya otak ini hanya mencari nikmat menghindari sengsara, yes, bisa jadi dia kaitkan kalau dia tidak merokok dia tidak diterima oleh teman-temannya, dan teman-temannya ngomong “Kalau kamu ngerokok,kamu gagah” bagaimana gagah? bisa jadi impoten tapi dalam hal ini pada waktu kita masih muda kita tidak mengetahui efek negatif semuanya yang ada bahwa kalau kita ngerokok “wuu keren” dengan demikian dengan dikaitkan tadi terjadilah asosiasi yang salah menjadi sempurna, tidak nikmatnya jangka pendek , mendadak bisa menjadi nikmat, padahal jangka panjangnya sengsara luar biasa.

Bayangin misalnya  rokok tadi bau dan engga enak dan menyakitkan menyesakkan nafas dan kemudian jangka panjangnya membuat orang bisa jadi impoten, anak-anak di kandungan bisa cacat, terus bisa laku bisa buat orang kecanduan ?  apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan rokok ? .
ketika dia kampanye, dia memberi arti yang berbeda, kampanye nya yang dilakukan , misalnya : kesannya jantan,kesannya hebat, kesannya cool, dan di bombardir dengan iklan, sampai membekas di dalam otak , sehingga terjadi 1 pola yang salah sempurna, jangka pendek yang tidak nikmat jadi kesannya nikmat jangka panjang sengsara dia juga tidak perduli lagi, Karena seola-olah jantan,cool dan hebat.

Semoga bermanfaat 🙂

Jika merasa bermanfaat, silahkan share ke teman Anda ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: