Force VS Power

Dalam sebuah aktifitas penjualan , kita tak akan melulu dihadapkan para urusan strategi dan teknik menjual yang efektif,dahsyat dan sejenisnya.
Kita juga akan berhadapan dengan urusan manajemen peRASAan.
pengertian-perasaan

Apa itu peRASAan ?
jika ditanya definisi, ada banyak sekali definisi yang menjelaskan apa itu peRASAan.dan tentu saja, semua definisi itu BENAR, Menurut persepsinya masing-masing.

PeRASAan adalah :
Sebuah SENSASI tertentu yang mampu dideteksi manusia di bagian dada , yang biasanya adalah hasil dari apapun proses berPIKIR di kepala manusia. entah itu proses berpikir atas informasi yang diolah dari luar , atau informasi dari dalam pikiran manusia.
Apapun yang yang dirasakan manusia itu adalah hasil dari apapun yang dipikirkan manusia, jika seseorang berpikir tentang yang menyenangkan, maka peRASAan yang akan muncul adalah rasa SENANG.

jika informasi yang diolah adalah sesuatu yang menyedihkan , maka pun peRASAan yang muncul adalah rasa SEDIH. Begitu seterusnya. Saya tak tahu, apakah manusia bisa merasakan sesuatu tanpa ada proses berpikir sebelumnya, misalnya tertawa tiba-tiba,menangis tiba-tiba, marah tiba-tiba tanpa dia berpikir sesuatu yang membuatnya marah.

Mustahil sebuah sensasi perasaan tertentu muncul di dada seseorang , tanpa adanya proses berpikir di kepalanya. Dalam kontek penjualan pun nampaknya begitu. kenapa ada orang yang merasakan keKECEWAan ketika sebuah ransaksi jual beli dilakukan ? calon customer nya kabur tanpa kabar misalnya.
Mungkinkah dia merasa kecewa tanpa memikirkan sesuatu sebelumnya ?

Ah… Rasanya Tak Mungkin.

Dia pasti memikirkan sesuatu tentang transaksi yang akan dilakukan itu.

CONTOH:
Si Udin ingin membeli game console dengan harga 100.000. dan sehari-hari nya dia menjual kaos, dan keuntungan dari menjual kaos itu adalah 10rb/pcs. kalau terjual 10pcs berarti keuntungannya 100rb, artinya, jika si Udin ingin membeli Game Console yang harga nya 100.000 itu, dia harus berhasil menjual kaos hingga 10pcs.
jika Udin sangat menginginkan Console itu, tentu dia akan berpikir keras bagaimana bisa menjual 10 kaos itu.

Apa yang terjadi jika ada transaksi yang batal dilakukan ?

inilah yang akan membuatnya merasa KECEWA. Semakin Dia sangat ingin mendapatkan console itu, tentu semakin ingin dia berhasil menjual 10 pcs kaos itu, semakin ingin dia berhasil menjual 10 kaos itu, kemungkinan besar, semakin kecewa juga dia jika ada transaksi yang batal.

Begitu Logikanya Kan ?

Perasaan yang muncul, selalu diawali dari cara kita berpikir. Keinginan itu,tentu bermula dari sebuah informasi yang masuk ke pikiran, diproses, hingga menjadi rasa yang bernama INGIN.

Cara seseorang meRASA selanjutnya, pun sangat dipengaruhi oleh cara berpikirnya. jika seorang penjual yang gagal transaksinya menganggap itu sebuah kegagalan, itulah yang akan memunculkan perasaan kecewa.

Lalu, apa hubungan nya cerita diatas dengan judul nya?
begini..
alam semesta ini punya sistem yang bekerja secara otomatis. Rezeki manusia , termasuk ke dalam sistem yang berjalan secara otomatis ini. Itu sebabnya, Rezeki punya pola-pola tertentu yang bisa di pelajari , dan dipahami dengan baik. semakin baik pemahaman seseorang tentang konsep rezeki , kemungkinan besar akan mudah dia menyesuaikan tindakan yang di pilihnya dalam kesehariannya.

Salah satu cara kerja alam semesta yang berhubungan dengan perasaan manusia adalah sebuah konsep Memaksakan & Memasrahkan.

Pernahkan suatu hari Anda sangat menginginkan dan mengharapkan sesuatu , sampai selalu terngiang-ngiang yang kita inginkan itu ? sampai kita gelisah menunggunya. Tapi justru , yang sangat diinginkan itu tak kunjung Anda dapatkan.

Anehnya, Begitu akhirnya Anda melupakan sesuatu yang kita inginkan dan harapkan itu, Eh yang tadinya sangat diinginkan itu malah hadir dengan sendirinya, tanpa usaha yang terlalu heboh dari Anda.

Fenomena ini dijelaskan  David Hawkins M.D Ph.D dalam bukunya “Force vs power”. bahwa ada 2 jenis pola perasaan manusia: Force & Power

Sederhananya begini :
Saat seseorang merasa sangat ingin, dan ada perasaan Memaksa keinginannya itu harus benar-benar menjadi kenyataan, perasaan itu disebut FORCE.

Dan sebaliknya, saat seseorang menginginkan sesuatu, tapi keinginan itu punya sensasi “nothing to lose” dan memasrahkan tentang apapun hasilnya, perasaan itu disebut POWER.


Begitupun dalam konteks penjualan.
Coba tanyakan pada diri Anda, “Saat posting sebuah iklan, jika diberikan nilai 1-10, berapa nilai hasrat kita ingin iklan itu berbuah closing?” lalu amati, seperti apa hasil dari iklan itu, berapa banyak responnya? berapa banyang yang menghubungi ? berapa banyak yang akhirnya closing ?

Dalan konsep Force & Power inilah masalahnya:
“Ngarep” itu adalah indikator bahwa perasaan kita sedang tidak netral. Ketidaknetralan perasaan itulah yang menjauhkan Anda dari rezeki Anda. Semakin Gelisah seseorang akan Rezekinya, biasanya akan semakin sulit rezekinya hadir.

NGAREP   >   GELISAH     >    TINDAKAN    >     FAIL/GAGAL
(Mind state) |  ( Felling state) |  ( Body state )  | ( REALITY )
NETRAL    >   TENANG      >    TINDAKAN    >     CLOSING

Kira-kira seperti ini ceritanya :
kita  punya pilihan untuk mengatur seperti apa kondisi pikiran kita ( mind state ), selanjutnya kondisi pikiran ini akan secara langsung berpengaruh pada kondisi perasaan (feeling state). setiap kondisi perasaan , akan sangat memengaruhi tindakan-tindakan seseorang (body state) Dan semua itu akan memengaruhi kenyataan kehidupan kita ( REALITY) kenyataan rezeki kita.

Jadi, saat kita terlalu ngarep,ngotot,maksa bahwa iklan kita, dagangan kita harus dan wajib closing dan laku, biasanya akan semakin sulit untuk closing.
sebaliknya, saat pikiran kita netralm oerasaan kita tenang , logikanya kita akan lebih mudah mengatur strategi-strategi yang memudahkan kita untuk closing. saat berinteraksi dengan calon customer , dan perasaan kita sedang tenang, pikiran bawah sadar kita , akan lebih  mudah memilih kata-kata yang mengarahkan kita untuk bisa lebih cepat Closing.

Semua pilihan ada pada Anda.
Mau gelisah atau tenang ? mau memasrahkan atau memaksakan hasilnya? hanya masalahnya, kebanyakan orang tahu persis yang mesti mereka lakukan. jikapun , Anda baru mengetahui apa yang kita bicarakan diatas, percayalah, Anda belum tentu bisa dengan mudah menjalankannya dengan baik dan benar. Tapi tenang, karena bahasan diatas adalah sebuah pola yang punya struktur , maka sesungguhnya kita bisa melatihnya. selanjutnya , seserius apa kita berkomitmen melatihnya.

semoga bermanfaat 🙂

Jika merasa bermanfaat, silahkan share ke teman kamu ya ^_^

One thought on “Force VS Power

  • August 13, 2016 at 3:10 pm
    Permalink

    Artikelnya sangat bermanfaat buat sy mas
    Makasi

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: